Penyusunan Permentan Tindakan Karantina Hewan di Luar Tempat Pemasukan dan Pengeluaran

Penyusunan Permentan Tindakan Karantina Hewan di Luar Tempat Pemasukan dan Pengeluaran

Pada tahun anggaran 2013, Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani menyelenggarakan kegiatan penyusunan peraturan menteri pertanian tentang Tindakan Karantina Hewan di Luar Tempat Pemasukan dan Pengeluaran sebagai payung hukum dalam pelaksanaan tindakan karantina hewan sebagaimana diamanatkan dalam peratura pemerintah No. 82 tahun 2000.

Sebagaimana diketahuai Karantina hewan memiliki peran yang sangat penting dalam melakukan pencegahan masuk  tersebar dan keluarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) sesuai dengan tugas pokok karantina yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan serta dilaksanakan dengan berpegang pada PP Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan dengan memperhatikan berbagai faktor strategis yang dapat mempengaruhinya.

Berdasarkan Pasal 57 PP No 82 Tahun 2000, bahwa untuk memberikan kemudahan pelayanan dan kelancaran arus barang di tempat pemasukan dan atau pengeluaran, maka tindakan karantina dapat dilakukan di luar tempat pemasukan dan atau di luar tempat pengeluaran maupun di luar instalasi karantina, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip karantina hewan dan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. Tindakan karantina tersebut dapat diperhitungkan sebagai bagian dari proses pelaksanaan tindakan karantina di instalasi karantina, tempat pemasukan, atau tempat pengeluaran berdasarkan analisis risiko hama penyakit hewan karantina.  Selanjutnya dalam Pasal 58 PP No. 82 Tahun 2000, bahwa dalam hal pemasukan, pelaksanaan tindakan karantina dimaksud dapat dilakukan di negara, area, atau tempat asal, di negara atau area transit, di atas alat angkut media pembawa selama dalam perjalanan menuju ke tempat pemasukan atau area tujuan, dan atau di tempat tujuan. Pelaksanaan tindakan karantina ini hanya dapat dilakukan atas persetujuan Menteri atau menurut persyaratan teknis yang ditetapkan.

Kemudian dalam hal pengeluaran, pelaksanaan tindakan karantina dimaksud dapat dilakukan di area atau tempat asal, dan atau di atas alat angkut media pembawa selama dalam perjalanan menuju ke tempat pengeluaran. Pelaksanaan tindakan karantina ini dapat dilakukan atas dasar pertimbangan dokter hewan karantina sepanjang area atau tempat asal telah dinyatakan bebas dari hama penyakit karantina yang dapat ditularkan melalui media pembawa tersebut.

Pelaksanaan tindakan karantina di luar tempat pemasukan dan di luar tempat pengeluaran yang telah dilakukan di Instalasi Karantina Hewan (IKH) telah diatur dalam peraturan tersendiri. Selanjutnya, sampai dengan sat ini belum tersedia pengaturan mengenai persyaratan teknis  dalam hal pelaksanaan tindakan karantina di luar tempat pemasukan dan belum tersedia pedoman teknis bagi dokter hewan karantina untuk pelaksanaan tindakan karantina di luar tempat pengeluaran, sehingga hal ini mengakibatkan interpretasi dan operasional yang beragam pada Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian (UPTKP).

Selanjutnya secara operasional, muncul implementasi kebijakan tindakan karantina di luar tempat pemasukan dan tempat pengeluaran oleh UPTKP yang belum memiliki payung hukum, yaitu penetapan Tempat Pelaksanaan Karantina Hewan (TPKH) terhadap media pembawa yang low risk. Mempertimbangkan bahwa hal tersebut adalah pengaturan terhadap masyarakat, maka harus diatur dalam suatu Peraturan Menteri. Dengan demikian landasan hukum operasionalnya menjadi kuat sesuai dengan kriteria risiko media pembawa.

Disamping hal tersebut diatas, untuk beberapa media pembawa memiliki sifat fisik yang tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan karantina di tempat pemasukan dan tempat pengeluaran. Sebagai contoh adalah MP berupa telur, tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran karena berisiko pecah pada saat pengambilan sampel dan perlakuan. Untuk hewan yang dilalulintaskan melalui pelabuhan penyeberangan juga tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran karena dapat menghambat arus kelancaran barang. Selain itu, terhadap MP yang berada di pulau-pulau kecil yang tidak ada petugas karantina dan tidak ditetapkan sebagai tempat pemasukan dan tempat pengeluaran, akan mengakibatkan dampak hukum pelanggaran apabila tidak diberikan solusi. Sehingga, terhadap MP yang berasal dari pulau-pulau tersebut perlu diatur tindakan karantinanya agar dapat dilakukan di luar tempat pemasukan dan di luar tempat pengeluaran.

Tujuan

Sebagai pedoman bagi masyarakat dan petugas karantina dalam hal pelaksanaan tindakan karantina di luar tempat pemasukan dan di luar tempat pengeluaran.

Memberi gambaran secara menyeluruh kepada pihak-pihak terkait mengenai tindakan karantina di luar tempat pemasukan dan di luar tempat pengeluaran.

Tahapan Penyusunan Permentan

Penyusunan permentan ini mencangkup serangkaian proses yang meliputi :

1.  Rapat Persiapan dan pembentukan tim penyusun

2. Penyusunan draft Akademis Tindakan Karantina Hewan diluar tempat pemasukan dan pengeluaran dengan melibatkan narasumber tenaga ahli dan akademisi

3. Penyusunan Legal drafting Tindakan Karantina Hewan di luara Tempat Pemasukan dan Pengeluaran

4. Uji konsep ke publik

5. Penetapan Permentan

Animal Welfare Dalam Kerangka Perdagangan Internasional

Oleh : drh. Agus Jaelani

Medik Veterinar Badan Karantina Pertanian

(Sumber : Majalah Infovet)

  Globalisasi menjadi sebuah kekuatan yang merevolusi perdagangan Internasional dan khususnya pada hewan dan produk hewan (Thiermann 2005)

 Tentu masih kuat dalam ingatan kita ketika Australia secara sepihak menghentikan ekspor sapi (live cattle) ke Indonesia. Imbas dari keputusan Australia tersebut membuat kelangkaan daging yang beredar dipasaran dan lonjakan hargapun terjadi. Kondisi ini tentu bukan kabar bagus bagi kita yang sedang berupaya meningkatkan konsumsi nasional akan daging. Pemerintah Australia berdalih kebijakan penghentian ekspor sapi dengan alasan animal welfare (kesejahteraan hewan). Lantas sejauh mana pengaruh animal welfare dalam kebijakan perdagangan Internasional?

Animal welfare

Upaya-upaya perlindungan terhadap hewan sebenarnya sudah dimulai abad ke-16. Richard Ryder menulis bahwa Undang-Undang yang pertama kali dikenal melawan kekejaman terhadap hewan di dunia disahkan di Irlandia pada tahun 1635. Kemudian pada tahun 1641 kode hukum pertama untuk melindungi hewan peliharaan disahkan di Amerika Utara.

Pada tahun 1979 pemerintah Inggris (UK) mengubah Komite Penasehat Animal Welfare Peternakan/Hewan Ternak (Farm Animal Welfare Advisory Committee) menjadi Dewan Animal Welfare (Farm Animal Welfare Council). Dewan inilah yang mengawali gagasan prinsip-prinsip animal welfare yang saat ini diadopsi oleh dunia Internasional. Aspek pengaturan animal welfare mencakup lima prinsip (five freedoms) yaitu  bebas dari rasa haus dan lapar (freedom from thrist and hunger), bebas dari rasa tidak nyaman (freedom from discomfort), bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit (freedom from pain, injury and disease), bebas untuk mengekspresikan perilaku normal (freedom to express normal behavior) dan bebas dari rasa takut dan tertekan (freedom from fear and distress).

Pada tahun 2004 secara resmi Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) memperkenalkan standar-standar animal welfare kepada negara anggota OIE. Sejak tahun 2005, Majelis Permusyawaratan (World Assembly of OIE Delegates) telah mengadopsi 7 standar animal welfare dalam Terrestrial Code dan dua standar animal welfare dalam OIE Aquatic Animal Health Standards Code (Aquatic Code).

Sanitary and Phytosanitary (SPS) dan Technical Barriers to Trade (TBT)

Globalisasi telah mencipatakan dunia tanpa batas. Pada aspek perdagangan tentu hal ini memiliki implikasi yang cukup besar. Kemajuan suatu negara bisa ditentukan oleh perannya dalam perdagangan Internasional dan sebaliknya suatu negara bisa hancur ketika tidak dapat mengikuti arus globalisasi perdagangan dengan baik. Melihat kondisi ini maka disusun berbagai perangkat dalam upaya menciptakan perdagangan yang fair. Sistem perdagangan yang memungkinkan semua negara yang terlibat memperoleh keuntungan. Perangkat yang disusun berupa beberapa perjanjian (agreement) yang digunakan untuk mengatur perdagangan. Diantara beberapa agreement yang penting dalam perdagangan Internasional dibawah naungan WTO adalah Sanitary and Phytosanitary (SPS) Agreement dan Techincal Barriers to Trade (TBT) Agreement.

Perjanjian SPS merupakan salah satu perjanjian dalam perdagangan yang dibuat oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Perjanjian ini mengatur semua tindakan yang bertujuan untuk melindungi manusia, hewan dan tumbuhan. Selain SPS, WTO juga membuat perjanjian TBT yang mengatur tentang aturan teknisnya, standar-standar dan prosedur penilaian (assessment procedures). Setiap negara anggota WTO diperbolehkan membuat standar-standar tersendiri tetapi harus berbasis ilmiah (scientific evidence). Standar yang dibuat tidak sewenang-wenang (diskriminatif) yang menyebabkan hambatan-hambatan yang tidak diperlukan. Apabila kebijakan/standar suatu negara melebihi standar Internasional yang telah ditetapkan maka negara lain yang merasa dirugikan dapat mengajukan keberatan dan akan difasilitasi oleh WTO.

Perjanjian SPS-WTO disusun berdasarkan kebijakan Internasional tentang kesehatan hewan dan zoonosis yang dibuat oleh OIE. Dalam perjanjian SPS menitikberatkan pada aspek kesehatan hewan dan zoonosis. Dalam perjanjian SPS dan TBT tidak secara spesifik menyebutkan mengenai animal welfare. Sehingga dalam perdagangan Internasional dalam naungan WTO standar animal welfare tidak dapat dijadikan alasan teknis yang menghambat perdagangan.

Animal welfare dan perdagangan Internasional

Perjanjian WTO didesain untuk mencegah dan mengeliminasi hambatan perdagangan. Perjanjian ini dibuat untuk menciptakan suatu kondisi perdagangan yang tidak diskriminatif, transparan, dan pendekatan berbasis ilmiah. Sampai saat ini WTO belum memasukan aspek animal welfare dalam ketentuan perdagangan (SPS). Hal ini dapat disebabkan karena tidak ada hubungan yang kuat antara aspek animal welfare dengan kesehatan hewan. Perbaikan pada aspek kesehatan hewan di suatu peternakan dimana standar animal welfare telah diperbaiki ternyata tidak cukup menggambarkan keterkaitan antara keduanya. Sehingga dalam beberapa kasus perdagangan, aspek animal welfare tidak dapat dijadikan pembatasan perdagangan (restricted).

Pedoman dan standar keilmuan animal welfare tidak secara spesifik disebutkan dalam perjanjian SPS dan TBT (Thiermann & Babcock 2005). Animal welfare sebagai non trade concern telah diusulkan oleh anggota WTO termasuk EU (Uni Eropa) sebagai bagian penting dalam perdagangan Internasional dan sedang diupayakan menjadi bagian dari TBT.

Pada kasus penghentian ekspor sapi oleh Australia besar kemungkinan pihak Australia menggunakan ketentuan pada Artikel XX (a,b,g) General Agreement on Tariffs and Trade (GATT). Dimana pada Artikel XX (a) berisi tentang “kebutuhan perlindungan moral publik”. Kalau dari poin ini dapat juga diinterpretasikan bahwa pelanggaran terhadap animal welfare termasuk dalam kategori perlindungan moral publik. Tetapi hal ini jarang dilakukan oleh negara anggota WTO mengingat WTO tidak membuat aturan spesifik mengenai animal welfare baik dalam perjanjian SPS maupun TBT.

Kebijakan WTO dengan tidak memasukan animal welfare dalam SPS dan TBT bisa jadi didasari dari kesulitan OIE dalam menetapkan standar Internasional animal welfare yang disebabkan keberagaman faktor (ilmiah, agama, ekonomi, budaya dan sosial) yang berperan penting dalam penetapan dan penerimaan standar-standar tersebut. Dengan keberagaman yang ada sangat memungkinkan standar animal welfare yang ditetapkan oleh satu negara dengan negara lainnya berbeda.

Nilai tambah animal welfare

Penerapan standar animal welfare dalam perdagangan Internasional sangat bergantung pada tuntutan konsumen negara importir. Pada negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa, konsumen sudah menuntut standar tinggi animal welfare selama proses produksi produk hewan dan sebagai konsekuensinya konsumen berani membayar mahal produk tersebut. Di Eropa dan USA konsumen meminta informasi lebih dan transparansi pada produk hewan. Jika produk dikelola dengan tidak menerapkan standar animal welfare maka harga produk menurun (Hobbs et al. 2002) dan sebaliknya jika produk dikelola dengan standar animal welfare maka konsumen berani membayar lebih mahal.

Survei yang dilakukan oleh Zogby International Poll of Consumer di USA diperoleh hasil sebanyak 80.7% konsumen berani membayar lebih mahal untuk telur yang dihasilkan oleh induk ayam yang diperlakukan secara manusiawi (animal welfare). Di Uni Eropa (EU), survei yang diadakan pada tahun 2005 juga menunjukan sebanyak 87% responden menerima tambahan biaya untuk telur ayam yang diperoleh dari induk ayam yang dipelihara pada kandang non-baterai. Lebih jauh lagi, konsumen di USA menuntut pelabelan (labeling) untuk produk babi dan telur ayam berisi informasi mengenai praktik animal welfare dalam produksinya. Bahkan konsumen berani membayar 20% lebih tinggi terhadap produk babi dan telur ayam yang dihasilkan dari peternakan/industri yang menerapkan standar animal welfare (Tonsor & Wolf 2011).

Di negara-negara maju dengan tingkat pemahaman masyarakat yang bagus maka implementasi standar animal welfare menjadi added value suatu produk. Tujuan pembuatan pedoman animal welfare bukan untuk memberi sanksi bagi produsen tetapi lebih untuk mendorong perlakuan yang lebih baik pada hewan dalam menanggapi keperihatinan publik dan konsekuensi negatif ekonomi akibat ketidaksesuaian dengan standar minimum yang ada (Thiermann & Babcock 2005). Saat ini pelaksanaan standar animal welfare terbatas pada perjanjian bilateral atau multilateral dimana negara yang terlibat mensyaratkan aspek animal welfare. Kebijakan penetapan standar animal welfare juga biasanya dilakukan antar private sector yang mengutamakan kualitas produk.

Seiring dengan tuntutan konsumen di negara-negara maju seperti Eropa dan USA maka kedepan aspek animal welfare akan memegang peranan penting dalam perdagangan Internasional. Uni Eropa menetapkan kebijakan impor hewan dan produknya berbasis standar animal welfare. Produk impor (hewan dan produknya) yang masuk ke Uni Eropa harus berasal dari proses produksi yang menerapkan standar animal welfare. Bahkan saat ini beberapa perjanjian perdagangan Internasional telah diratifikasi dengan memasukan aspek animal welfare. Melihat kondisi ini besar kemungkinan standar animal welfare akan diadopsi oleh WTO sebagai salah satu persyaratan dalam perdagangan Internasional. Untuk itu kita perlu memperbaiki sistem peternakan kita dengan mengimplementasikan animal welfare pada setiap tahapan rantai produksi. Perlu kerjasama dari semua stakeholders untuk mewujudkan sistem peternakan yang berbasis pada prinsip animal welfare.

Pedoman Biosafety dan Biosecurity Lab Karantina Hewan

PEDOMAN BIOSAFETY LABORATORIUM KARANTINA HEWAN

I.   PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahwa tanah air Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kaya akan sumberdaya alam hayati berupa aneka ragam jenis hewan, ikan dan tumbuhan yang merupakan modal dasar bagi pembangunan nasional dalam rangka untuk meningkatkan taraf hidup, kemakmuran serta kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Kekayaan sumber daya alam hayati tersebut khususnya hewan perlu dijaga kelestariannya dari ancaman masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan Karantina dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara RI atau dari luar negeri yang memiliki potensi merusak dan merugikan perekonomian nasional melalui tindakan karantina hewan.  Dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup manusia dewasa ini, lalulintas komoditas tidak terbatas hanya pada hewan namun juga produk hewan serta dan benda lain yang sangat berkaitan sebagai media pembawa hama dan penyakit hewan Karantina (HPHK).

Tindakan karantina terhadap pemasukan dan atau pengeluaran hewan dan atau bahan asal hewan, hasil bahan asal hewan serta benda lain dilaksanakan di tempat-tempat pemasukan atau pengeluaran sebagaimana yang telah di tetapkan Menteri Pertanian.  Tindakan karantina dimaksud mencakup pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemunahan dan pembebasan.  Dalam melakukan tindakan karantina tersebut, peran dan fungsi laboratorium karantina hewan sangat penting yaitu untuk membantu peneguhan diagnosa/agensia penyakit atau mengidentifikasi adanya cemaran mikroba maupun kimiawi sebagai bagian dari pengawasan keamanan hayati hewani.

Pada era globalisasi, perubahan status dan situasi penyakit berlangsung sangat cepat dan sulit dihindari yang mampu melintasi negara atau beberapa negara tanpa batas (transbondary disease).  Kejadian penyakit dari suatu negara dapat melintasi ke beberapa negara dalam waktu yang relatif singkat, emerging disease atau kejadian suatu penyakit patogen (high pathogenic) mengalami penurunan patogenitas (low pathogenic) kemudian muncul menjadi re-emerging disease.  Perubahan tingkat patogenitas suatu penyakit sekaligus dapat menjadi media ancaman bioterorisme bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab baik untuk tujuan gangguan stabilitas ekonomi, politik dan sosial.

Ketentuan-ketentuan yang terkait dengan kesehatan hewan secara internasional mengacu pada Badan Kesehatan Hewan Dunia (World Animal Health Organization/Office International of Epizootic/OIE). Ketentuan-ketentuan internasional tersebut dituangkan dalam persetujuan Sanitary and Phytosanitary (SPS) yang memuat tentang kewajiban dan ketentuan bagi negara pengekspor untuk melengkapi persyaratan yang ditetapkan negara pengimpor terkait dengan daftar hama penyakit hewan karantina (HPHK) dalam komoditas yang dapat menularkan atau menyebarkan HPHK (sebagai media pembawa HPHK).

Oleh karena itu, pentingnya penanganan spesimen biologi dan kultur hidup patogen hewan, tumbuhan dan manusia, telah menjadi pokok bahasan penting dalam setiap negara. Berdirinya Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) pada tahun 1995 dengan aturan-aturannya yang diterapkan pada perdagangan komoditas pertanian, kesehatan hewan dan tumbuhan telah menjadi isu kebijakan pokok dalam perdagangan internasional. Sementara terkait dengan spesimen biologi dan kultur asal penyakit menular pada manusia menjadi perhatian dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Keselamatan hayati (Biosafety, yang selanjutnya akan digunakan istilah ini dalam penulisan) bekerja di Laboratorium telah menjadi tuntutan dalam tersedianya pedoman bekerja di laboratorium. Pedoman ini diarahkan pada penanganan bahan mikrobiologi khususnya yang terkait dengan agen infeksius berbahaya yang dapat ditangani secara aman di dalam ruangan serta prinsip-prinsip keselamatan yang harus dilakukan bagi personal yang bekerja di laboratorium.  Disamping itu juga sebagai pedoman untuk meminimalisasi risiko terjadinya kecelakaan dalam laboratorium serta meminimalisasi kesalahan dalam melaksanakan pemeriksaan  dan pengujian, keabsahan hasil uji, dan melindungi keamanan petugas laboratorium.


B. Maksud dan Tujuan

1. Maksud ditetapkannya pedoman ini adalah sebagai acuan dalam operasionalisasi, pembinaan, pengawasan dan bimbingan pengelolaan terhadap laboratorium karantina hewan lingkup Badan Karantina Pertanian dalam melakukan pengujian agen berbahaya.

2.   Tujuan ditetapkannya pedoman ini untuk :

a)      Mencegah risiko terhadap kesehatan dan keselamatan petugas laboratorium, terjadinya kontaminasi dan penyebaran agen berbahaya di laboratorium dan lingkungan

b)      Mengurangi risiko kesalahan dalam melaksanakan pemeriksaan dan pengujian laboratorium;

c)      Mencegah risiko masuk dan tersebarnya penyakit eksotik ke dalam wilayah Republik Indonesia

d)      Menjamin kualitas hasil uji yang baik dan benar serta akuntabel dengan penerapan sistem manajemen mutu laboratorium

e)      Meningkatkan kualitas data hasil uji dan mengembangkan sistem manajemen yang baik meliputi aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi serta pengarsipan;

C.   Ruang Lingkup

Ruang lingkup pengaturan pedoman ini meliputi manajemen sistem mutu, biosafety dan biosecurity, pelaporan, pembinaan dan pengawasan.

D. Pengertian

Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan :

1.  Laboratorium karantina hewan adalah tempat beserta sarana dan prasarana untuk melaksanakan kegiatan pemeriksaan  dan pengujian laboratorium penyakit hewan.

2. Berlaboratorium adalah rangkaian kegiatan yang menggunakan fasilitas laboratorium untuk tujuan pemeriksaan  dan pengujian yang meliputikegiatan penerimaan contoh/sampel, pengiriman contoh/sampel, penanganan contoh/sampel, pengujian, pengamatan teknis, perhitungan, interpretasi hasil uji, pencatatan/rekaman dan pelaporan hasil uji.

3.   Produk Hewan adalah semua bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan yang diperuntukan bagi konsumsi manusia dan atau kegunaan lain bagi pemenuhan kebutuhan dan kemasalahan manusia.

4.   Validasi adalah suatu proses yang dilakukan untuk membuktikan bahwa suatu metode uji dapat diterapkan dengan cara melakukan percobaan uji di laboratorium.

5.   Contoh/sampel yang selanjutnya disebut contoh adalah satu atau lebih satuan satuan (unit) hasil yang dipilih dari suatu kumpulan (populasi) satuan, atau bagian terpilih dari hasil dengan jumlah yang lebih besar.

6.   Satuan adalah bagian terkecil di dalam suatu lot hasil yang secara individual terpisah, yang harus diambil untuk membuat suatu contoh primer utuh atau contoh primer bagian.

7.   Petugas Pengambil Sampel yang selanjutnya disebut Petugas Pengambil Contoh (PPC) adalah tenaga terlatih yang memiliki kompetensi dalam pengambilan contoh/sampel.


II. MANAJEMEN SISTEM MUTU

II. A     Persayaratan Manajemen

1.   Organisasi

a)   Struktur organisasi

Struktur organisasi harus efisien dan jelas sehingga mampu mendukung pencapaian tujuan laboratorium dalam rangka memperoleh hasil pengujian yang absah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Struktur organisasi tersebut sekurang-kurangnya terdiri dari Kepala/Penanggungjawab Laboratorium; Bagian Administrasi; Bagian Pelayanan Teknis; dan Pelaksana Pengujian.

b) Tugas, wewenang, dan tanggung-jawab

Pembagian tugas, wewenang dan tanggungjawab dalam organisasi pada laboratorium tersebut disusun sedemikian rupa sehingga dapat mencerminkan pembagian tugas yang jelas, sesuai dengan jenis pekerjaan, wewenang dan tanggung jawab yang melekat pada fungsi masing-masing penanggungjawab dalam organisasi tersebut agar mampu memberikan pelayanan yang cepat dengan hasil uji yang tepat dan akurat.

Kepala/Penanggung-jawab lembaga laboratorium sesuai tanggung jawab dan kewenangannya dalam melakukan kegiatan pemeriksaan dan pengujian apabila dipandang perlu berhak melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian dalam berlaboratorium. Tindakan perbaikan dan pencegahan tersebut dapat dilakukan secara tertelusur/traceback untuk mengetahui apakah pemeriksaan dan pengujian tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan Instruksi Kerja (Standard Operational Procedures atau SOP).

Dalam rangka memperoleh kepastian dan keabsahan hasil uji yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka setiap laboratorium karantina hewan lingkup Badan Karantina Pertanian yang melakukan pemeriksaan dan pengujian sampel-sampel dari media pembawa HPHK yang dilalulintaskan harus diusahakan memperoleh akreditasi laboratorium (ISO 17025) dari lembaga yang berkompeten.

2.   Sumberdaya Manusia, Sarana dan Prasarana serta Teknologi.

Dalam melaksanakan kegiatan pemeriksaan dan pengujian, perlu dukungan sumberdaya manusia yang memadai, sarana dan prasarana, serta pengembangan teknologi yang mendukung terselenggaranya berlaboratorium yang baik.

3.   Sistem Manajemen Mutu

Dalam melaksanakan pemeriksaan dan pengujian, maka laboratorium karantina hewan harus :

a)   Memiliki dan menerapkan sistim manajemen mutu sesuai dengan ruang lingkup pemeriksaan dan pengujian serta memperhatikan prinsip yang baik;

b)   Mendokumentasikan sistem manajemen mutu, kebijakan, program, prosedur dan instruksi yang diperlukan untuk menjamin mutu hasil pengujian;

c)   Mempunyai personil yang memahami dan menerapkan sistim dokumentasi;

d)   Mempunyai manajemen puncak yang komit, dapat mengkomunikasikan, dan menjamin pelaksanaan laboratorium karantina hewan yang baik;

e) Melakukan evaluasi secara berkala minimal setahun sekali terhadap penerapan berlaboratorium veteriner yang baik.

4.   Dokumen dan Rekaman

Dalam melaksanakan pemeriksaan dan pengujian laboratorium karantina hewan, maka setiap kegiatan di laboratorium harus :

a)   dicatat dan didokumentasikan dengan baik;

b)   sesuai dengan perencanaan, prosedur dan instruksi (SOP) yang telah ditetapkan dalam bentuk dokumentasi tertulis;

c) dikomunikasikan dan dipahami oleh personil terkait apabila terjadi perubahan dan/atau pembaharuan dokumen;

d)   terdokumentasi dan disahkan oleh penanggungjawab bidang terkait;

e)   mempunyai dokumen yang dikelola sehingga mudah diakses dan ditelusuri, dengan cara penomoran dan/atau penandaan;

f)    mempunyai prosedur untuk melindungi dokumen (waktu, tempat, dan cara penyimpanan);

g) mempunyai dokumen dan rekaman yang berada ditempat kegiatan dilakukan.

  1. 5.    Pengadaan Bahan dan Peralatan

Setiap pengadaan bahan dan peralatan yang diperlukan dalam kegiatan pemeriksaan dan pengujian laboratorium karantina hewan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a)   bahan dan peralataan yang diperlukan disesuaikan dengan ruang lingkup pemeriksaan dan pengujian;

b) pemesanan, pembelian, penerimaan, penyimpanan bahan dan alat-alat sesuai dengan prosedur yang berlaku;

c)   adanya fasilitas pelatihan dan layanan purna jual yang disediakan penyedia bahan dan alat-alat tersebut.

II. B     Persyaratan Teknis

Setiap kegiatan berlaboratorium yang melakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kesehatan hewan dan produknya harus memenuhi persyaratan teknis yang meliputi :

1.   Sumberdaya Manusia Laboratorium

Sumberdaya manusia yang melakukan kegiatan pemeriksaan dan pengujian pada laboratorium karantina hewan harus :

a) memiliki kompetensi sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya di laboratorium dari pemeriksaan dan pengujian laboratorium, mengikuti pelatihan pemeriksaan dan pengujian laboratorium karantina hewan;

b) mempunyai kualifikasi pendidikan meliputi : bidang kedokteran hewan, program pendidikan dibidang kesehatan hewan, Biologi, Pangan dan Nutrisi, Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan, Sekolah Kejuruan Menengah Atas bidang Kesehatan Hewan dan Analis Kimia; dan

c)   diberi kesempatan personil untuk peningkatan kompetensi.

2.   Sarana Fisik, Sistem Informasi, Diseminasi, dan Lingkungan

Sarana fisik yang dipergunakan dan lingkungan berlaboratorium harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a)   Bangunan dan sarana fisik.

1)      bersifat permanen, kuat dan mudah dalam pemeliharaannya;

2)      memiliki fasilitas sumber air yang memadai;

3)      memiliki sumber energi listrik dan cahaya yang memadai/cukup untuk menerangi ruangan;

4)      memiliki ruang yang cukup luas untuk ruang gerak petugas dan alat-alat;

5)      memiliki sistem ventilasi yang baik;

6)      memiliki dinding kedap air, tidak korosif, mudah dibersihkan dan didesinfeksi;

7)      memiliki sistem pengatur suhu ruang;

8)      memiliki langit-langit tidak mudah mengelupas dan tidak terjadi akumulasi kotoran

9)      memiliki bentuk yang lengkung/tidak membentuk sudut pada pertemuan antara dinding dengan lantai dan dinding dengan dinding;

10)   memiliki lantai yang rata, halus, kuat, tidak licin, tidak mudah pecah, kedap air, terbuat dari bahan yang tahan terhadap zat-zat kimia dan api, mudah dibersihkan dan didesinfeksi;

11)   memiliki pintu, jendela dan kusen terbuat dari bahan bukan kayu, tidak korosif, kedap air, tidak toksif dan tahan hama;

12)   tersedia fasilitas meja laboratorium yang tahan terhadap bahan kimia, air, rayap dan tidak korosif;

13     tersedia ruangan yang terpisah dengan baik untuk pemeriksaan dan pengujian yang berbeda sehingga tidak mempengaruhi hasil uji (tidak mengkontaminasi);

14) tersedia fasilitas pengendalian akses keluar masuk ruangan laboratorium tertentu misalnya pada laboratorium mikrobiologi; dan

15) tersedia fasilitas untuk melakukan kegiatan pengujian yang menggunakan hewan percobaan.

b) Sistem Informasi dan Diseminasi

Laboratorium hendaknya memiliki sistem informasi (Simlab, sistem informasi laboratorium) dan diseminasi dalam bentuk jejaring antar laboratorium (Wide Area Network/WAN, Local Area Network/LAN), termasuk fasilitas untuk pengelolaan dan inventarisasi bahan, uji banding, dan sistem manajemen.

c)   Lingkungan

Lingkunmgan laboratorium harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1) kelayakan lingkungan, tata ruang untuk sebuah laboratorium pemeriksaan dan pengujian Karantina hewan di wilayah setempat;

2)   memiliki sistem dan fasilitas pengelolaan limbah; dan

3)   memiliki sistem pencegahan gangguan serangga dan hewan pengganggu lainnya seperti tikus, dan binatang pengerat lainnya.


3.   Peralatan

Peralatan yang dipergunakan dalam pemeriksaan dan pengujian harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a)   disesuaikan dengan ruang lingkup pemeriksaan dan pengujian;

b)   ketelusuran (traceability), dan dikalibrasi secara berkala;

c)   dipelihara dan ditempatkan pada tempat yang sesuai dengan fungsinya;

d)   dilengkapi dengan petunjuk penggunaan alat dan buku catatan pemakaian (log book);

e)   mempunyai penanggungjawab sesuai jenis dan fungsi peralatannya;

f)    dioperasionalkan oleh petugas yang memiliki kompentensi sesuai bidangnya;

g)   dibersihkan dan dikembalikan pada tempatnya dan disesuaikan dengan kondisi semula;

h)  prosedur pemeliharaan dan pemakaian harus didokumentasikan (dicatat);

i)    mempunyai rekaman untuk setiap jenis peralatan mencakup spesifikasi dan informasi dari produsen mengenai, pembuat alat, nama peralatan, nama pabrik, identitas jenis dan nomor seri , letaknya pada saat ini kondisi saat diterima, petunjuk penggunaan manual data perusahaan pembuat alat; dan

j)    mencantumkan tanggal hasil kalibrasi, jadwal rencana pemeliharaan yang akan dilakukan serta riwayat terjadinya kerusakan dan atau perbaikan peralatan yang telah dilakukan.

  1. 4.    Metoda Pengujian dan Validasi Metoda.

Metoda yang dipergunakan untuk pemeriksaan dan pengujian termasuk validasinya harus:

a)   disesuaikan dengan ruang lingkup kegiatan pemeriksaan dan pengujian, serta tersedia di laboratorium;

b) metoda resmi/standar seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar Internasional yang berlaku atau metoda yang sudah dipublikasikan, dan diverifikasi terlebih dahulu sebelum diterapkan; dan

c)   melakukan validasi terlebih dahulu apabila menggunakan metoda tidak resmi. Validasi metoda dilakukan untuk membuktikan apakah metoda tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan pemeriksaan dan pengujian pada laboratorium, sedangkan verifikasi terhadap metoda yang akan diterapkan dilakukan untuk melihat apakah metoda tersebut dapat diterapkan dalam melakukan kegiatan pemeriksaaan dan pengujian. Dalam melakukan validasi metoda uji diperlakukan beberapa kriteria/pendekatan yaitu akurasi (Ketepatan), ketelitian (precision), sensitifitas (kepekaan), selektifitas dan spesifisitas (kekhasan).

5.   Bahan, Reagensia dan Bahan Biologik/Hewan Uji

a)   Bahan

1) bahan yang dipergunakan dalam suatu pengujian sebaiknya tidak mempengaruhi pemeriksaan dan pengujian;

2) bahan, reagensia dan bahan biologik/hewan uji harus diidentifikasi dengan baik (kode, nomor, jenis dan sertifikat); dan

3) bahan acuan harus tertelusur (jelas diketahui asal usulnya), dan atau bersertifikat.

b)   Bahan kimia dan Pereaksi

1) bahan kimia dan pereaksi yang digunakan harus sesuai dengan spesifikasi/grade yang dicantumkan dalam metode, diketahui kemurnian, konsentrasi dan masa kadaluwarsa;

2) bahan kimia dan pereaksi harus diberi label, untuk menunjukkan sumber, identitas, konsentrasi, stabilitas dan berisi informasi tentang tanggal preparasi, tanggal kadaluwarsa dan intruksi spesifik penyimpanan; dan

3) bahan kimia dan pereaksi harus disimpan sesuai dengan sifat masing-masing bahan kimia tersebut.

c)  Bahan Biologik/Hewan Uji

1) bahan biologik non makhluk hidup seperti antigen dan serum harus jelas asal usulnya, kemurnian, kualitas, cara penanganan dan penyimpanannya;

2)   bahan biologik makhluk hidup seperti virus, bakteri, mikroba dan sistem sel maupun sub-seluler harus jelas asal-usulnya, identifikasi dan karakteristik, pasase, kemurniannya, cara penanganan dan penyimpannnya;

3) setiap kali pemakaian bahan biologik harus dicatat tanggal, tujuan pemakaian, jumlah dan sisa pemakaian;

4)   organisme yang bersifat sangat patogen dan membahayakan manusia maupun hewan, ditangani secara khusus sesuai ketentuan yang berlaku, misalnya Biosafety, Biosecurity, dan Biocontaiment; dan

5) hewan uji sebaiknya dipelihara dan dirawat dalam fasilitas yang memadai sesuai peruntukannya.


II. C     Mekanisme Kerja

1.      Pengambilan Contoh/Sampel

Pengambilan contoh/sampel harus mewakili kumpulan hewan/produk hewan atau media pembawa HPHK yang akan diuji. Oleh karena itu, pengambilan contoh/sampel yang diperlukan untuk pemeriksaan dan pengujian harus mempertimbangkan :

a)   Perencanaan Pengambilan Contoh/Sampel meliputi :

1)   tujuan pengambilan contoh/sampel;

2)   tipe/jenis contoh/sampel;

3)   ukuran contoh/sampel, kemasan dan pengiriman;

4)   sifat, kondisi dan ketahanan contoh/sampel;

5)   tingkat bahaya bagi manusia (kritis, mayor, minor).

b)   Petugas Pengambil Contoh (PPC)

Petugas yang melakukan pengambilan contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1)   terampil dan terlatih dalam melakukan kegiatan pengambilan contoh/sampel untuk kegiatan pemeriksaan  dan pengujian laboratorium; dan

2) memahami prosedur pengambilan, penanganan, dan pengiriman contoh/sampel.

c) Instruksi Kerja Pengambilan contoh/sampel sebelum pengambilan contoh dilakukan, maka petugas :

1)   mempersiapkan dan memakai perlengkapan pengambilan contoh;

2)   mempersiapkan peralatan pengambilan contoh yang steril; dan

3)   menghindari terjadinya pencemaran atau kontaminasi

d) Lokasi Pengambilan Contoh/Sampel. Lokasi dan titik pengambilan contoh/sampel dapat dilakukan di tempat-tempat pemasukan/pengeluaran atau di Instalasi Karantina Hewan atau Instalasi Karantina Hewan Sementara dimana media pembawa HPHK dilakukan tindakan karantina hewan.

e)   Pengiriman Contoh/Sampel

Contoh harus dibawa ke laboratorium sesegera mungkin dalam waktu kurang dari 24 jam setelah pengambilan contoh.

Untuk pengujian residu, mikrobiologi dan pemeriksaan organoleptik pada contoh daging tidak boleh ditambah dengan bahan pengawet.

Selama pengiriman contoh, suhu transportasi harus terus dimonitor.

1) Pengiriman sampel Darah

a.  Pengambilan sampel darah di lapangan tidak terlepas dari media penyimpanan yang biasanya memakai ice box dengan menggunakan iced pack sebagai media pendinginannya.

b.   contoh/sampel darah ditampung dalam vacum tube yang dilapisai koagulan ataupun tanpa koagulan disesuai tujuan dari pengambilan sampel

c.  Penyimpanan sampel darah ini penting artinya untuk menghindari kerusakan sampel darah yang diperoleh dan keakurasian pengukuran parameter yang dibutuhkan di Laboratorium.

d. Kelemahan media penyimpanan ice box tersebut adalah ketergantungan pada iced pack yang sebelumnya harus didinginkan dalam pendingin/kulkas, daya tahan pendinginan yang tidak terukur dengan pasti, serta terbatasnya kapasitas iced pack untuk menjaga temperatur optimum sampel darah pada 4-6oC.

2)  Pengiriman Contoh Daging

a.   contoh daging segar/dingin disimpan pada shu 0-4°C;

b.   contoh daging beku disimpan pada suhu – 20°C;

c.   penambahan bahan pengawet hanya untuk uji patologis.

3)   Pengiriman Contoh Susu

a. contoh susu sesegera mungkin dikirim ke laboratorium dan sesegera mungkin dilakukan pengujian;

b. apabila sulit dilakukan maka beri pengawet, simpan pada suhu < 5° C atau termos es dengan dry es dan harus diperiksa sekurang-kurangnya dalam waktu 24 jam;

c. Untuk analisa fisik dan kimiawi, simpan pada suhu 10°C, dan untuk mikrobiologi suhu penyimpanan maksimal 5°C.

f)    Penanganan Contoh

Penanganan contoh untuk pemeriksaan dan pengujian pada laboratorium harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) setiap contoh yang diambil dicatat tanggal penerimaan, jumlah dan kondisi contoh, diberi identitas yang jelas dan tidak mudah hilang;

2) setiap penerimaan, penyimpanan atau pengamanan contoh ditulis dan didokumentasikan dengan baik;

3) dalam penanganan contoh laboratorium harus mempunyai fasilitas untuk penyimpanan contoh sebelum, selama, dan sesudah pengujian sesuai dengan sifat masing-masing contoh yang diperlukan.

g)   Pendistribusikan Contoh

Contoh didistribusikan sesuai dengan sifat contoh dan permintaan jenis pemeriksaan dan pengujian disertai dengan informasi yang diperlukan.

2.   Keabsahan Hasil Uji

Untuk memenuhi keabsahan hasil uji diperlukan persyaratan sebagai berikut :

a) menggunakan bahan acuan yang jelas asal-usulnya, dan atau bersertifikat;

b)  data hasil uji direkam sehingga dapat ditelusuri; dan

c)   pernah mengikuti program uji banding antar laboratorium dan atau uji profisiensi.

3.   Pelaporan Hasil

a) setiap hasil pemeriksaan dan pengujian produk hewan yang dilaksanakan oleh laboratorium harus dilaporkan secara rinci yang berisi informasi sebagai berikut:

1)      judul (misalnya”laporan Hasil Uji”, sertifikat pengujian);

2)      nama dan alamat laboratorium;

3)      identifikasi khusus dari sertifikat atau laporan (seperti nomor seri);

4)      nama dan alamat pengirim contoh;

5)      sifat dan kondisi contoh (identitas sampel/contoh);

6)      tanggal penerimaan sampel/contoh, tanggal pelaksanaan uji;

7)      acuan prosedur pengambilan contoh;

8)      metoda pengujian;

9)      interpretasi terhadap hasil uji apabila diperlukan;

10)   tanda tangan dari penanggungjawab teknis/penguji atas sertifikat/laporan hasil uji dan diketahui oleh Kepala/ Penanggung-jawab Laboratorium;

11) pernyataan dari penanggungjawab laboratorium yang menerangkan bahwa sertifikat atau laporan hasil uji tidak boleh digandakan tanpa persetujuan tertulis dari penanggungjawab laboratorium.

b) didokumentasikan, termasuk hasil pemeriksaan dan pengujian serta hasil validasinya.


III.  BIOSAFETY DAN BIOSECURITY

 

III.A. PRINSIP BIOSAFETY DAN BIOSECURITY

3.A.2 Biosafety dan Biosecurity

Istilah biosecurity mempunyai banyak definisi.  Pada industri hewan istilah biosecurity berhubungan dengan perlindungan terhadap hewan dari kontaminasi mikroba. Di beberapa negara istilah biosecurity digunakan untuk menggantikan biosafety. Program biosafety bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan terpaparnya (exposure) dari suatu individu atau lingkungan terhadap agen biologik berbahaya. Biosafety menggambarkan prinsip containment, teknologi dan praktek yang diterapkan untuk mencegah paparan yang tidak diinginkan terhadap patogen dan toksin atau pelepasannya secara tak disengaja.  Biosafety dicapai dengan menerapkan berbagai macam tingkat kontrol laboratorium dan ruangan (containment) melalui desain laboratorium dan pembatasan akses, peningkatan kemampuan dan training, penggunaan peralatan containment dan metode yang aman untuk menangani bahan infeksius dalam lingkup laboratorium.

Program biosafety dan biosecurity saling berbagi komponen yang sama. Keduanya berdasarkan penilaian risiko dan methodologi manajemen, peningkatan kemampuan dan tanggung jawab personil, kontrol dan akuntabilitas bahan penelitian termasuk mikroorganisme dan stok kultur, element pengontrolan akses, dokumentasi pentransferan bahan, training, rencana kedaruratan, dan manajemen program.

Penilaian risiko program biosafety dan biosecurity dilakukan untuk menentukan tingkat yang tepat dari setiap kontrol yang diterapkan dalam program. Biosafety memperhatikan prosedur laboratorium yang sesuai dan praktek yang diperlukan untuk mencegah terpapar (exposure) dan infeksi terkait laboratorium sementara biosecurity ditujukan pada prosedur dan praktek untuk menyakinkan bahwa material biologik dan informasi yang sensitif dalam keadaan aman.

Kedua program menilai kualifikasi setiap personil. Program biosafety bertujuan untuk menjamin bahwa staf lab memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan mereka dengan aman melalui training dan dokumentasi dari peningkatan kemampuan teknik. Staf harus menunjukkan tingkat yang sesuai dalam tanggung jawab yang profesional untuk mengatur bahan penelitian dengan selalu mengikuti prosedur yang tepat.  Praktek biosafety memerlukan akses lab yang dibatasi pada saat pekerjaan sedang berlangsung. Praktek biosecurity menjamin bahwa akses ke fasilitas lab dan bahan biologik dibatasi dan dikontrol dengan baik. Inventarisasi atau  proses pengaturan bahan untuk mengontrol dan menelusuri stok biologik atau material sensitif lainnya adalah juga bagian dari kedua program tersebut. Untuk biosafety, pengiriman bahan   biologik infeksius harus selalu mengacu pada pengepakan yang aman, containment dan prosedur transport yang tepat sementara biosecurity meyakinkan bahwa semua transfer terkontrol, dapat ditelusuri dan didokumentasi sesuai dengan potensi risiko. Kedua program melibatkan personil laboratorium dalam praktek pengembangan dan prosedur yang sesuai dengan tujuan biosafety dan biosecurity tetapi tidak menghambat kegiatan penelitian atau klinik/diagnostik.

Standar praktek biosafety memerlukan tanda peringatan yang ditempelkan pada pintu laboratorium untuk memperingatkan orang-orang akan adanya bahaya dalam laboratorium tersebut. Tanda peringatan itu meliputi nama agen biologik, bahaya spesifik yang berhubungan pada penggunaan dan penanganan dari agen dan informasi contact person dari peneliti. Praktek ini bertentangan dengan tujuan dari keamanan (security). Meskipun begitu, biosafety dan biosecurity harus seimbang dan proporsional untuk mengidentifikasi risiko-risiko saat mengembangkan kebijakan institusi.

Saat ini biosafety dan biosecurity digabungkan menjadi satu istilah yaitu “biorisiko” yang didefinisikan sebagai suatu proses untuk mengidentifikasi risiko yang dapat diterima dan risiko yang tidak dapat diterima (risiko infeksi karena kecelakaan) dan risiko biosecurity lab (risiko karena akses tanpa ijin, kehilangan, pencurian, penyalahgunaan ,atau pelepasan dengan tujuan yang lain) dan konsekuensi potensial daripadanya.

Penanganan biosecurity laboratorium harus berbasis pada program yang komprehensif dari akuntabilitas suatu bahan biologik berharga yang termasuk didalamnya.

  1. Inventarisasi yang diperbaharui secara berkala beserta tempat penyimpanannya
  2. Identifikasi dan seleksi dari personil beserta aksesnya
  3. Rencana penggunaan bahan biologik berharga
  4. Proses persetujuan untuk memindahkan atau menggunakannya
  5. Pencatatan dari proses pemindahannya baik di dalam fasilitas maupun antar laboratorium
    1. Pencatatan dan/atau pembuangan bahan biologik.

Selain itu, protokol biosecurity laboratorium harus juga mencakup bagaimana untuk mengatasi pelanggaran/pembobolan biosecurity lab termasuk :

  1. Pencatatan kejadian
  2. Protokol untuk pelaporan
    1. Pengawasan dan pembimbingan melalui komite Biosafety

Protokol juga harus memasukkan kedalam data inventaris bagaimana melakukan penanganan yang sesuai dan memberikan gambaran pelatihan  yang harus diikuti. Peran serta dari penanggung jawab dari kesehatan masyarakat dan pihak keamanan yang berwenang pada saat terjadi pelanggaran/pembobolan keamanan harus ditentukan dengan jelas. Prosedur pendokumentasian untuk mengatur tingkah laku dan interaksi pekerja didalam fasilitas dan perlatan-peralatan yang ada juga harus dipertimbangkan.

 

Teknik Bekerja di Laboratorium

a.  Teknik Bekerja pada Bahan Mikrobiologi

Institusi harus memastikan bahwa semua personil kompeten dalam menangani  agen biologi dan toksin  dalam teknik mikrobiologi yang baik dan sesuai sumber daya (termasuk waktu dan peralatan) yang tersedia.  Dalam melaksanakan identifikasi, diagnosa dan pengujian laboratorium, petugas laboratorium harus memperhatikan ketentuan-ketentuan biosafety bekerja di laboratorium.  Tujuannya Institusi harus memastikan pelatihan dan program pembimbingan yang menekankan teknik mikrobiologi yang baik dan memantau prosedur  untuk memastikan bahwa pekerja kompeten untuk melakukan semua tugas dengan praktek mikrobiologi yang baik.

Institusi harus menetapkan prosedur untuk:

  • Menetapkan standar untuk teknik mikrobiologi yang baik dan membuat dokumentasi  tentang hal itu;
  • Melakukan pelatihan untuk mencapai standard tersebut, mempromosikannya melalui proses komunikasi organisasi;
  • Menggunakan kontrol pemantauan untuk menjamin pekerja tetap mempertahankan standar;
  • Mengalokasikan sumber daya;
  • Menilai personil, produk, pencemaran lingkungan yang mengikuti prosedur laboratorium apakah terjamin baik dari biorisiko atau perspektif kontrol kualitas.

Teknik bekerja dengan bahan mikrobiologi pada laboratorium biosafety harus melakukan langkah-langkah meliputi:

  1. Mencegah kontaminasi kultur;
  2. Melindungi penguji dari bahaya infeksi patogen seperti : Non Patogen vs Patogen; Spektrum Virulens vs Status Sistem Imun; Saprofit, Parasit dan Patogen; Dosis, Rute Infeksi.

Prinsip dasar dan tata tertib bekerja di laboratorium mikrobiologi dilakukan dalam upaya:

  1. Mengetahui fasilitas laboratorium, penanggung jawab,teknisi laboratorium, teman bekerja dilaboratorium yang sama;
  2. Ikut menjaga/merawat fasilitas laboratorium; dan
    1. Mempercepat mekanisme pelaporan apabila terjadi kecelakaan atau suatu kondisi yang tidak aman pada petugas/penanggung jawab laboratorium;

Prinsip dasar yang harus diperhatikan oleh petugas/penanggung jawab laboratorium:

  1. Mengenakan jas laboratorium. Jas laboratorium yang sudah dikenakan tidak diperbolehkan dibawa/dikenakan di kantor/kantin atas untuk keperluan jalan-jalan;
  2. Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum dan setelah bekerja (bekerja secara aseptis);
  3. Menggunakan sarung tangan jika diperlukan, dan tidak membuang sembarangan sarung tangan yang telah dipergunakan;
  4. Menyediakan wadah untuk alat-alat kotor;
  5. Menyediakan wadah untuk alat-alat yang terkontaminasi;
  6. Selalu mengelap/membersihkan tempat kerja/bench dengan disinfektan, sebelum dan setelah bekerja;
  7. Menyimpan barang pribadi, catatan, topi, payung, dan sebagainya di loker yang telah disediakan di luar ruangan laboratorium;
  8. Tidak makan/minum, merokok, menyimpan atau menyiapkan makanan atau mengaplikasikan kosmetik;
  9. Berpakaian rapih, mengikat rambut, mencukur jenggot, bersepatu tertutup;
  10. Kultur dan media diberi label yang berisi tanggal pembuatan, nama kultur/media, dan nama pembuat kultur/media;
  11. Mensterilisasi/dekontaminasi alat gelas/kultur/media yang terkontaminasi sebelum dicuci;
  12. Bersihkan/buang alat/bahan setelah selesai pengujian; dan
  13. Mintalah bantuan kepada penanggung jawab laboratorium apabila hal-hal yang kurang jelas mengenai cara penggunaan peralatan laboratorium.

Untuk menjaga kesehatan dan keamanan di laboratorium mikrobiologi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Perlakukan semua bakteri/mikroba sebagai mikroorganisme yang memiliki potensi membahayakan kesehatan manusia;
    1. Gunakan metode yang dapat mengurangi risiko pencemaran oleh biomaterials;
    2. Taati aturan dan tata tertib yang telah ditentukan di laboratorium Mikrobiologi;
    3. Sebelum meninggalkan laboratorium :
    4. Rapikan dan bersihkan meja kerja;
      1. Simpan alat gelas dan pereaksi yang tidak digunakan di dalam lemari/rak masing-masing;
      2. Jangan tinggalkan sisa-sisa pengujian di laboratorium;
        1. Jika tidak sempat mencuci pada hari tersebut, buang dan bilas alat gelas dengan air sebelum ditinggalkan; dan
        2. Cuci tangan setiap akan meninggalkan ruangan laboratorium.

b.  Inaktivasi Bahan Biologis dan Toksin

Institusi harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk memastikan bahwa metode yang tepat untuk desinfeksi dan dekontaminasi dipilih dan diterapkan secara efektif. Organisasi harus memastikan bahwa semua yang tercemar limbah atau memiliki potensi terkontaminasi telah diidentifikasi dan didokumentasikan (termasuk yang mungkin timbul dari keadaan darurat), dan bahwa prosedur yang efektif telah diterapkan untuk merancang dekontaminasi efektif dan perawatan lain yang sesuai.

Tujuannya adalah untuk membuat bahan biologis yang ditangani di dalam fasilitas laboratorium dalam keadaan aman dan bebas dari infektivitas/toksin untuk memastikan fasilitas laboratorium, personil dan peralatan dalam keadaan aman, dan untuk memastikan tidak ada biorisiko yang berada dalam bahan yang dikeluarkan dari fasilitas tersebut. Sumber kontaminasi yang harus dipertimbangkan termasuk:

  • Personil;
  • Pakaian dan PPE;
  • Glassware;
  • Peralatan;
  • Kultur dan bahan yang terkait;
  • Pembersihan tumpahan bahan dan peralatan;
  • Mikroorganisme yang mungkin menular, toksin dan bahan terkontaminasi;
  • Limbah kertas dan plastik;
  • Jarum, spoit dan benda tajam;
  • Air limbah, termasuk dari bak cuci dan mandi;
  • Udara;
  • Filter dan sistem penanganan udara;
  • Pembuangan peralatan yang habis digunakan dalam fasilitas;
  • Terpaparnya agen pada hewan di laboratorium biologi atau toksin;
  • Kadaver dan bedding;
  • Fasilitas.

Personil yang terkontaminasi mungkin termasuk personil inti yang bekerja dalam fasilitas, kontraktor, dan personil respon darurat. Kultur dan bahan terkait mungkin sumber dari supernatan yang terkontaminasi, aspirasi dan media kultur. Materi biologik terinfeksi mungkin juga termasuk spesimen yang menular pada manusia, hewan atau tumbuhan. Dalam beberapa kasus, mungkin diperlukan untuk mencegah terkontaminasi, peralatan khusus seperti pakaian kebakaran atau alat emergency diletakkan pada tempat tersebut jika tidak dapat secara efektif didekontaminasi.

Apapun agen biologik dan toksin yang ditangani, ada kemungkinan bahwa sejumlah metode inaktivasi efektif akan tersedia. Organisasi harus memastikan bahwa ada data yang tersedia untuk menunjukkan bahwa metodologi yang dipilih mampu menonaktifkan agen biologik dan toksin dalam kondisi khusus ditemui di fasilitas. Langkah-langkah validasi harus mempertimbangkan beberapa hal termasuk:

  • Sifat materi yang sedang diuji (volume misalnya, keberadaan protein / lainnya yang berpotensi menghambat);
  • Waktu kontak, masalah kompatibilitas bahan (misalnya interaksi dengan stainless steel atau karet segel);
  • Bahaya kesehatan potensial yang terkait dengan desinfektan;
  • Kebutuhan untuk mempertahankan tingkat yang diperlukan senyawa aktif, termasuk proses penghancuran yang melampaui waktu yang diperlukan.

Semua alur limbah yang berpotensi dan sumber-sumber lain kontaminasi harus diidentifikasi dan didokumentasikan. Penilaian risiko harus merupakan bagian integral dari proses untuk mengidentifikasi dan mengembangkan dekontaminasi efektif.

Dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan dekontaminasi berikut harus dipertimbangkan:

  • Memastikan semua desinfektan yang digunakan mengandung senyawa aktif yang cukup untuk mengatasi kondisi kerja di mana desinfektan tersebut  akan diterapkan, dan konsentrasi tersebut dipertahankan selama proses berlangsung, termasuk melakukan kegiatan validasi tertentu di mana perlu;
  • Menyediakan fasilitas yang memadai dan prosedur untuk penyimpanan limbah (termasuk penyimpanan jangka pendek);
  • Memastikan bahwa metode yang tersedia untuk dekontaminasi efektif terhadap limbah campuran (misalnya hewan yang terinfeksi yang telah menerima bahan radioaktif);
  • Memastikan bahwa apabila ada, metode yang tersedia untuk dekontaminasi peralatan yang sensitif yang tidak dapat diautoklaf (misalnya komputer);
  • Melaksanakan langkah-langkah pemantauan untuk memastikan metode telah efektif (misalnya merekam siklus dan penggunaan indikator dalam otoklaf);
  • Dekontaminasi pakaian pelindung dengan cara yang tepat sebelum meninggalkan fasilitas;
  • Memastikan adanya metode yang memadai dan sumber daya tersedia untuk menangani pekerjaan rutin dan menangani setiap tumpahan atau insiden lain selama penanganan dan pengangkutan bahan di dalam dan di luar fasilitas;
  • Menerapkan program-program untuk memastikan jumlah limbah terkontaminasi diminimalkan;
  • Memastikan semua personil terlatih dalam penggunaan protokol dekontaminasi.

III.A.2  Pakaian dan Alat Pelindung Diri (APD)

Institusi harus memastikan bahwa kebutuhan APD perlu diidentifikasi dan peralatan yang sesuai yang spesifik, tersedia, digunakan dan dikelola secara tepat dalam fasilitas tersebut.  Tujuannya adalah untuk melindungi petugas laboratorium dari bahaya yang mereka hadapi. Organisasi harus memilih APD untuk laboratorium berdasarkan data penilaian risiko, evaluasi dan analisis. Dalam kasus beberapa bahaya yang hadir, pemilihan APD harus diprioritaskan untuk agen yang paling berbahaya dan efek kombinasi harus diperhitungkan (misalnya menggunakan pelarut mengurangi perlindungan dengan sarung tangan lateks).  Input standar meliputi:

  • Penilaian risiko (agen apa yang digunakan, pekerjaan apa yang akan dilakukan, teknik kontrol apa yang digunakan);
  • Pemilihan APD;
  • Sumber daya dan ketersediaan;
  • SOP.

Untuk melaksanakan proses ini pastikan bahwa prosedur berikut ini diterapkan:

  • Verifikasi APD terhadap agen tertentu;
  • Pasokan APD, harus tersedia setiap saat;
  • Pembersihan dan pemeliharaan APD;
  • Pelatihan APD;
  • Pengujian kecocokan penggunaan APD sesuai dengan keadaan personil;
  • Prosedur pemakaian dan pelepasan ditetapkan;
  • Memastikan bahwa  staf telah mengikuti semua prosedur APD yang ditetapkan;
  • Evaluasi masalah alergi atau kondisi medik yang terkait dengan APD.

 

III. B. Biosafety Laboratorium

Ketentuan mengenai Biosafety dan Biosecurity untuk setiap kondisi yang spesifik mengacu pada pedoman Biosafety dan Biosecurity yang berlaku secara nasional maupun internasional. Persyaratan keamanan (Biosecurity) dari laboratorium setingkat Biosafety berdasarkan ketentuan dari WHO Laboratory Biosafety Manual (LBM) 3rd edition meliputi :

  1. 1.        Laboratorium Biosafety Level 1/BSL-1

 

BSL-1 yaitu laboratorium layak untuk menguji agen penyebab penyakit yang kurang membahayakan kesehatan manusia dewasa dan mampu meminimalisir segala potensi bahaya terhadap personel laboratorium serta lingkungannya. Sebagai contoh bekerja dengan Bacillus Subtilis, Escherchia Coli.

Persyaratan rancang bangun BSL-1 harus memiliki :

a)   pintu masuk dan keluar;

b)   bak cuci tangan stainless steel;

c)   rak pakaian kerja/jas laboratorium;

d)   ruang kerja mudah dibersihkan;

e)   ruangan kedap air;

f)    perabotan yang kokoh; dan

g)   jendela dilengkapi dengan saringan serangga dan debu.

  1. 2.        Laboratorium Biosafety Level 2/BSL-2

BSL-2 yaitu laboratorium layak untuk menguji dengan agen penyakit cukup potensial membahayakan petugas laboratorium dan lingkungannya. Sebagai contoh Salmonellae, Toxoplasma Species, Hepatitis B. Virus.

Persyaratan rancang bangun BSL-2 harus memiliki :

a)        pintu dapat menutup sendiri;

b)        bak cuci tangan stainless steel;

c)        rak pakaianpelindung;

d)        ruang kerja mudah dibersihkan;

e)        ruang kerdap air;

f)         perabotan yang kokoh;

g)        jendela dilengkapi dengan saringan serangga dan debu;

h)       dilengkapi biological safety cabinet/BSC;

i)         harus cukup penerangan/cahaya dalam laboratorium;

j)          lokasi laboratorium harus terpisah dari tempat/rumah penduduk;

k)      sistem pengawasan ventilasi dimana aliran udara hanya masuk ke dalam laboratorium tanpa ada sirkulasi udara untuk keluar dari laboratorium;

l)       dilengkapi alat pelindung mata dan obat cuci mata untuk petugas;

m)     membatasi lalu lintas orang dan alat ketika personel dan alat laboratorium sedang bekerja;

n)     dilengkapi pakaian pelindung untuk pekerja pada waktu bekerja;

o)      dilengkapi tanda biohazard.

  1. 3.        Laboratorium Biosafety Level 3/BSL-3

BSL-3 yaitu laboratorium layak untuk menguji dengan agen penyakit menular yang berpotensi serius membahayakan dan atau dapat menyebabkan kematian petugas laboratorium akibat terpapar agen penyakit menular berbahaya melalui hirupan udara (inhalasi). Sebagai contoh bekerja dengan Mycobacterium Tuberculosis, St. Louis Encephalitis Virus, Coxiella Burnettii, Avian Influenza Virus.

Untuk persyaratan rancang bangun BSL-3 disamping memenuhi persyaratan rancang bangun BSL-1 dan BSL-2 juga harus dilengkapi sebagai berikut :

a) fasilitas pengatur aliran udara (HEPA-filtered air exhaust) antar ruang laboratorium;

b)   ruang masuk kedalam tersegel atau double door entry guna mencegah kontaminasi dan memiliki ruang antara (ante room) yang dilengkapi tempat mandi (air shower) sebelum masuk ke pusat laboratorium;

c)   biological safety cabinet/BSC class II atau BSC class III guna menangani bahan agen penyakit menular berbahaya;

d)   fasilitas autoclave di luar dan di dalam laboratorium;

e)   peralatan listrik tersentralisir dan dilengkapi circuit breaker panel; dan

f)    tempat bekerja yang dirancang ergonomically untuk kenyamanan bekerja dan efisiensi.

4.      Laboratorium Biosafety Level-4/BSL-4

BSL-4 yaitu laboratorium layak untuk menguji dengan agen penyakit menular berbahaya dan penyakit exotic yang mempunyai risiko setiap individu tertular melalui hirupan udara dalam laboratorium yang telah tercemari agen penyakit penyakit berbahaya dan dapat mengancam keselamatan hidup. Sebagai contoh bekerja dengan Ebola Zaire Virus, Rift Valley Fever Virus.

Untuk persyaratan rancang bangun BSL-4 disamping memenuhi persyaratan rancang bangun BSL-1, BSL-2 dan BSL-3 juga harus dilengkapi sebagai berikut :

a) ruang antara (ante room) yang dilengkapi tempat mandi (air shower) sebelum masuk ke dalam pusat laboratorium dan memiliki tempat mandi (shower) sebelum keluar;

b)   fasilitas BSC Class III; dan

c)   fasilitas autoclave di luar dan dalam laboratorium dengan tutup pintu ganda.

III.B  Keselamatan Kerja Petugas Laboratorium

Dalam melaksanakan pemeriksaan dan pengujian pada laboratorium veteriner, petugas laboratorium harus memperhatikan ketentuan-ketentuan keselamatan kerja sebagai berikut :

a)   Keselamatan Kerja Petugas pada Laboratorium Mikrobiologi

1)   mencegah kontaminasi kultur;

2)   melindungi penguji dari bahaya infeksi patogen seperti : Non Patogen vs Patogen; Spektrum Virulens vs Status Sistem Imun; Saprofit, Parasit dan Patogen; Dosis, Rute Infeksi.

Prinsip dasar dan tata tertib bekerja di laboratorium mikrobiologi dilakukan dalam upaya :

1)   mengetahui fasilitas laboratorium, penanggung jawab, teknisi laboratorium, teman bekerja dilaboratorium yang sama;

2)   ikut menjaga/merawat fasilitas laboratorium; dan

3) mempercepat mekanisme pelaporan apabila terjadi kecelakaan atau suatu kondisi yang tidak aman pada petugas/penanggung jawab laboratorium;

Disamping prinsip dasar tersebut di atas petugas/penanggung-jawab laboratorium harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1)      mengenakan jas laboratorium. Jas laboratorium yang sudah dikenakan tidak diperbolehkan dibawa/dikenakan di kantor/kantin atas untuk keperluan jalan-jalan;

2)      selalu mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum dan setelah bekerja (bekerja secara aseptis);

3)      menggunakan sarung tangan jika diperlukan, dan tidak membuang sembarangan sarung tangan yang telah dipergunakan;

4)      menyediakan wadah untuk alat-alat kotor;

5)      menyediakan wadah untuk alat-alat yang terkontaminasi;

6)      selalu mengelap/membersihkan tempat kerja/bench dengan disinfektan, sebelum dan setelah bekerja;

7)      menyimpan barang pribadi, catatan, topi, payung, dan sebagainya di loker yang telah disediakan di luar ruangan laboratorium;

8)      tidak makan/minum, merokok, menyimpan atau menyiapkan makanan atau mengaplikasikan kosmetik;

9)      berpakaian rapih, mengikat rambut, mencukur jenggot, bersepatu tertutup;

10)   kultur dan media diberi label yang berisi tanggal pembuatan, nama kultur/media, dan nama pembuat kultur/media;

11)   mensterilisasi/dekontaminasi alat gelas/kultur/media yang terkontaminasi sebelum dicuci;

12)   bersihkan/buang alat/bahan setelah selesai pengujian; dan

13)   mintalah bantuan kepada penanggungjawab laboratorium apabila hal-hal yang kurang jelas mengenai cara penggunaan peralatan laboratorium.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan dan keamanan di laboratorium mikorobiologi :

1)   perlakukan semua bakteri/mikroba sebagai mikroorganisme yang memiliki potensi membahayakan kesehatan manusia;

2) gunakan metode yang dapat mengurangi risiko pencemaran oleh biomaterials;

3) taati aturan dan tata tertib yang telah ditentukan di laboratorium Mikrobiologi;

4)   sebelum meninggalkan laboratorium :

a.   rapikan dan bersihkan meja kerja;

b. simpan alat gelas dan pereaksi yang tidak digunakan di dalam lemari/rak masing-masing;

c.   jangan tinggalkan sisa-sisa pengujian di laboratorium;

d.   jika tidak sempat mencuci pada hari tersebut, buang dan bilas alat gelas dengan air sebelum ditinggalkan; dan

e.   cuci tangan setiap akan meninggalkan ruangan laboratorium.

b) Keselamatan Kerja Petugas pada Laboratorium Kimia

1)   mencegah kontaminasi antar bahan kimia/pereaksi.

2) melindungi penguji dari bahan kimia berbahaya seperti bahan beracun (bersifat toxic); berkarat (Corrosive); menyebabkan iritasi (Harmful or irritant); mudah meledak (Explosive); oksidator (Oxidizing agent); dan mudah terbakar (Flammable).

Prinsip dasar dan tata tertib bekerja di laboratorium kimia dilakukan dalam upaya :

1)   mengetahui fasilitas laboratorium, penanggung jawab, teknisi laboratorium, teman bekerja di laboratorium yang sama;

2)   ikut menjaga/merawat fasilitas laboratorium; dan

3) mempercepat mekanisme pelaporan apabila terjadi kecelakaan atau suatu kondisi yang tidak aman pada petugas/penanggung jawab laboratorium.

Disamping prinsip dasar tersebut petugas/penanggungjawab laboratorium harus memperhatikan sebagai berikut :

1)      mengenakan jas laboratorium. Jas laboratorium yang sudah dikenakan tidak diperbolehkan dibawa/dikenakan di kantor/kantin atau untuk keperluan jalan-jalan;

2)      selalu mencuci tangan denga air dan sabun sebelum dan setelah bekerja (bekerja secara aseptis);

3)      menggunakan sarung tangan jika diperlukan, dan tidak membuang sembarang sarung yang telah dipergunakan;

4)      menyediakan wadah untuk alat-alat kantor;

5)      menyediakan wadah untuk alat-alat yang terkontaminasi;

6) selalu mengelap/membersihkan tempat kerja/bench dengan disinfektan, sebelum dan setelah bekerja;

7)      menyimpan barang pribadi, catatan, topi, payung, dan sebagainya di loker yang telah disediakan di luar ruangan laboratorium, hanya alat/benda untuk keperluan bekerja yang diperbolehkan diatas tempat kerja/bench untuk mencegah kontaminasi;

8)      tidak makan/minum, merokok, menyimpan atau menyiapkan makanan atau mengaplikasikan kosmetik;

9)      tidak menyimpan makanan/minuman di ruang pendingin (refrigenerator);

10)   berpakaian rapi, mengikat rambut, mencukur jenggot, bersepatu tertutup;

11)   penggunaan pipet harus dijaga agar tidak tumpah dan tidak diperbolehkan memipet dengan mulut, gunakan bulb karet atau pipeter;

12)   mensterilisasi/dekontaminasi alat gelas/kultur/media yang terkontaminasi sebelum dicuci;

13)   bersihkan/buang alat/bahan setelah selesai pengujian;

14)   lakukan sanitasi pada ruang laboratorium, water bath dan refrigerator/freezer sekurang-kurangnya sekali dalam satu minggu;

15)   mintalah bantuan kepada penanggungjawab laboratorium apabila ada hal-hal yang kurang jelas mengenai cara penggunaan peralatan laboratorium;

16)   dilarang ada nyala api (flame) di dalam laboratorium kimia;

17)   semua bahan dan pereaksi diberi label yang berisi tanggal pembuatan, nama bahan dan pereaksi, dan nama pembuatnya;

18)   jangan meninggalkan peralatan laboratorium bekerja tanpa pengawasan petugas laboratorium. Jika pengujian terpaksa tidak dapat dihentikan sampai berakhirnya jam kerja, maka mintalah pertimbangan terlebih dahulu kepada penanggungjawab laboratorium.

19)   Simpan bahan dan pereaksi dalam jumlah sekecil mungkin diatas meja kerja/bench, jangan letakkan ditempat yang memungkinkan untuk terguling atau jatuh.

20)   Ruang asap/asam (flame hood) bukan untuk menyimpan bahan kimia;

21)   Bahan-bahan kimia yang tidak kompatibel/tidak tercampurkan jangan disimpan berdekatan, misalnya :

a. Asam asetat >< Asam kromat, Asam mitrat, Asam perklorat, dan lain-lain;

b. Aseton >< Asam nitrat dan sulfat pekat;

c. Merkuri >< Asetilen, Amonia.

22)   bahan-bahan kimia yang membahayakan pernapasan hanya boleh dipergunakan didalam ruang asap/asam, misalnya : Asetil Klorida, Amonium Hidroksida, Bromin, Klorin, Kloroform, Fluorin Asam Bromat, Hidrogen Sulfida, Fosfo Klorida, Fosfo Oksilorida, Sulfur Diokasida, Karbon Monoksida, dan lain-lain;

23)   bahan kimia yang beracun dan menyebabkan iritasi ditimbang dalam wadah tertutup dan dikerjakan didalam ruang asap/asam, misalnya : Garam Se, Hg, Akrilamid, dan lain-lain; dan

24)   setiap membuka bahan bertekanan atau mudah menguap agar dilakukan di dalam ruang asap/asam dan diarahkan ke tempat yang lebih aman serta hindari membuka bahan bertekanan atau mudah menguap tersebut ke arah diri sendiri atau orang lain;

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan dan keamanan di laboratorium kimia :

1)   semua bahan kimia yang dipergunakan pada dasarnya berbahaya dan harus dihindari terjadinya kontak antara bahan kimia dan petugas laboratorium;

2)   bahan kimia harus ditempatkan pada wadah yang tertutup rapat;

3)   gunakan ruang asap/asam (flame hood) bila bekerja dengan bahan kimia yang membahayakan pernapasan;

4)   gunakan jas laboratorium, sarung tangan, pelindung mata pada saat bekerja di ruangan laboratorium;

5)   jangan sekali-kali membawa bahan kimia/pelarut organik dengan hanya memegang lehernya saja, tetapi harus ditopang dari bawah;

6)   pastikan bahwa penguji telah mengetahui sifat-sifat dan cara kerja bahan kimia yang akan dipergunakan;

7)   untuk menghindari kebakaran sebaiknya silinder gas diletakkan diruang terbuka atau ruang yang ventilasinya cukup;

8)   gunakan kacamata kerja (safety gogles) ketika :

a.   bekerja dengan oksidator kuat, bahan kimia yang menyebabkan iritasi dan mudah meledak;

b.   mencampur bahan kimia yang dapat menimbulkan reaksi kuat (ledakan, panas, dan lain-lain);

c.   bekerja dengan menggunakan alat dan bahan yang bertekanan tinggi;

d. melihat langsung ke dalam botol yang berisi bahan kimia berbahaya, apabila harus melihat botol yang berisi bahan kimia harus dilihat melalui botol kacanya;

e. melarutkan atau mengencerkan asam dan basa encer sekalipun untuk menghindari kemungkinan terjadinya reaksi kimia yang membahayakan;

c)  Bahan-Bahan kimia Berbahaya dan Cara Penanganannya

Kebanyakan bahan kimia yang dipakai di laboratorium yaitu bahan kimia yang berbahaya. Ditinjau dari satu sisi maupun sisi lainnya, terdapat beberapa bahan kimia lebih berbahaya lagi.

Bahan kimiayang berbahaya pada umumnya termasuk kedalam golongan bahan kimia : beracun/toksin (toxic substances); korosif/iritant (corrosive substances); mudah terbakar (flammable substances); mudah meledak/eksplosif (explosive substances); oksidator (oxydizing agents); reaktif; radioaktif; dan gas bertekanan tinggi.

1)   Bahan Kimia Beracun/Toksin (toxic substances)

a)   Sifat-sifat bahan kimia beracun

Pada dasarnya semua bahan kimia beracun tetapi bahayanya terhadap kesehatan sangat bergantung pada jumlah zat tersebut masuk ke dalam tubuh.  Bahan-bahan ini dapat masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara misalnya tertelan, terhirup atau karena kontak dengan kulit. Gangguan toksin (racun) dari bahan-bahan kimia terhadap tubuh berbeda-beda misalnya CCL4 dan Benzena dapat menimbulkan kerusakan pada hati, methyl isocianide dapat menyebabkan kebutaan dan kematian, senyawa merkuri dapat menimbulkan kelainan pada genetik atau keturunan.

Senyawa organik yang mengandung cincin benzene, senyawa nikel, dakrom dapat bersifat karsinogenik atau penyebab penyakit kanker.

Walupun demikian gangguan-gangguan tersebut sangat tergantung pada kondisi kesehatan pada pekerjanya. Kondisi badan yang sehat dan makanan yang bergizi akan mudah mengganti kerusakan sel-sel akibat keracunan, sedangkan kondisi kurang gizi akan sangat rawan terhadap keracunan.

b) Toksik

Efek toksik pada tubuh manusia dibagi dua, yakni akut dan kronis, efek akut adalah pengaruh sejumlah dosis tertentu yang akibatnya dapat dirasakan dalam waktu yang pendek (keracunan phenol dapat menyebabkan diare dan keracunan.  CO dapat menimbulkan hilang kesadaran atau kematian dalam waktu pendek yaitu detik, menit, jam). Kronis adalah akibat keracunan bahanbahan kimia dalam dosis kecil secara terus menerus dan efeknya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang (minggu, bulan, tahun). Menghirup uap benzena dan senyawa hidrokarbon terkhlorinasi (khlorofon, karbon tetra khlorida) dalam kadar rendah tetapi terus menerus akan menimbulkan penyakit hati (lever, setelah beberapa tahun) serta uap timbal akan menimbulkan kerusakan dalam darah.

Toksisitas bahan kimia perlu diketahui oleh para pekerja laboratorium untuk mengetahui derajat bahan tersebut. Untuk efek kronis sebagai petunjuk berguna untuk ukuran toksitas adalah Nilai Ambang Batas (NAB) atau thresshold Limit Value yaitu konsentrasi maksimum dari zat, uap atau gas dalam udara yang dapat dihirup, diperoleh selama 8 jam per hari selama 5 hari perminggu tanpa menimbulkan gangguan kesehatan yang berarti.

c)   Cara penanganan

Bekerja dengan bahan kimia beracun harus berhati-hati dan memperhatikan beberapa hal berikut :

1.   gunakan almari asam;

2.   hindari makanan dan minuman dalam laboratorium;

3.   gunakan alat pelindung diri yang sesuai ;

4.   ventilasi ruangan diperhatikan agar ruangan tidak lembab dan tercemar oleh gas-gas

d)   Syarat Penyimpanan bahan kimia beracun :

1.   ruangan dingin berventilasi;

2.   jauh dari bahaya kebakaran;

3.   pisahkan dari bahan-bahan yang mungkin bereaksi;

4.   sediakan alat pelindung diri, pakaian kerja, masker, dan sarung tangan.

2)   Bahan kimia korosif/Iritan

a)   Jenis bahan kimia korosif/Iritan

Bahan tersebut bila kena kulit juga dapat menimbulkan kerusakan berupa rangsangan atau iritasi dan peradangan kulit. Oleh karena itu bahan kimia korosif dapat pula disebut sebagai iritant.  Selain kulit bagian tubuh yang lembab atau berlendir seperti mata dan saluran pernapasan merupakan bagian yang rawan.

Bahan kimia korosif dapat dikelompokkan sesuai wujud zat, yaitu cair, padat, dan gas.

1.   Bahan kimia korosif cair

Dapat menimbulkan iritasi setempat sebagai akibat reaksi langsung dengan kulit, proses pelarutan atau denaturasi protein pada kulit akibat gangguan keseimbangan membran dan tekanan osmosa pada kulit. Pengaruhnya akan bergantung pada konsentrasi dan lamanya kontak dengan kulit. Asam sulfat pekat dapat menimbulkan luka yang sukar dipulihkan.  Contoh bahan korosif cair :

a. Asam mineral : asam nitrat, asam khlorida, asam sulfat, asam fosfat, asam flourida;

b.   Asam organik : asam formiat, asam asetat, asam monokhloroaserat;

c.   Pelarut organik : petroleum, Hidrokarbon tekhlorinasi, karbon disulfida, terpentin.

2.   Bahan kimia korosif padat

Sifat korosif dan panas yang ditimbulkan akibat proses pelarutan adalah penyebab iritasi yang sangat tergantung pada kelarutan zat pada kulit yang lembab.  Contoh zat padat korosif :

a. Basa : natrium hidroksida, kalsium hidroksida; natrium silikat, asam karbonat, kalsium oksida/hidrokarbon, kalsium karbida, kalsium sianida.

b.   Asam : trikhlorasetat.

c.   Lain-lain : fenol, natrium, kalsium, pospat, perak nitrat,

3.   Bahan korosif bentuk gas

Bentuk gas paling berbahaya dibanding dengan bentuk cair atau padat karena yang diserang adalah saluran pernapasan yang ditentukan oleh kelarutan gas dalam permukaan saluran yang lembab atau lendir. Jenis gas Iritant dapat digolongkan pada kecilnya kelarutan yang juga menentukan daerah serangan pada alat pernapasan, sebagai berikut :

a. kelarutan tinggi, dengan daerah serangan pada bagian atas saluran pernapasan : amonia, asam khlorida, asam fluorida, formaldehid, asam asetat, sulfur khlorida, tionil khlorida, sulfuril khlorida;

b. kelarutan sedang, efek pada saluran pernapasan bagian atas dan lebih dalam (bronchial) : belerang oksida, khlor, arsen trikhlorida, posfor pentakhlorida;

c.   kelarutan kecil, tetap efeknya pada alat pernapasan bagian dalam : ozon, nitrogen oksida, fosgen (COCL2);

d. lain-lain, efek iritasi oleh mekanisme bukan pelarutan; akrolein, dikhloroetilsulfida, dikhlorometileter, dimetilsulfa, khloropikrin.

b)   Cara Penanganan bahan kimia korosif :

1.   hindari kontak dengan tubuh dengan cara menggunakan pelindung diri (sarung tangan, kaca mata, pelindung muka, pelindung pernapasan/masker);

2. Ventilasi sangat diperlukan untuk menjaga konsentrasi gas dalam ruangan tetap rendah; dan

3.   bila terkena bahan kimia tersebut, cara pertolongan pertama adalah dengan menyemprotkan/pencucian memakai air sebanyak mungkin bila perlu dengan air sabun.

c)   Syarat Penyimpanan bahan korosif :

1.   ruang dingin dan berventilasi;

2.   wadah tertutup dan ber-etiket; dan

3.   dipisahkan dari zat-zat beracun.

3)   Bahan Kimia Mudah Terbakar

a)   Jenis bahan Kimia Mudah Terbakar.

Kebanyakan bahan kimia mudah terbakar dalam Laboratorium dapat digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu :

1.   padat : belerang, fosfor merah dan kuning, hibrida logam, logam, alkali;

2.   cair : eter, alkohol, metanol, n-heksena, benzena, aseton pentana, dsb;

3.   gas : hidrogen, asetilen, dsb.

Pada umumnya zat cair lebih mudah terbakar daripada zat padat, dan zat gas lebih mudah terbakar daripada zat cair, tetapi zat padat yang berupa serbuk lebih halus lebih mudah terbakar daripada zat cair atau mudah terbakar seperti gas.  Yang paling banyak terdapat di Laboratorium adalah golongan cair berupa pelarut organik.  Uap pelarut organik dapat berdifusi sejauh 3 meter menuju titik api atau seolah-olah dapat terlihat api menyambar pelarut organik pada jarak tersebut.  Juga pada suhu tertentu ada pelarut organik yang dapat terbakar dengan sendirinya (autoequition) walaupun tidak ada sumber titik api.

b)   Syarat penyimpanan

1.   ruang dingin dan berventilasi;

2.   auhkan/hindari dari sumber api atau panas, terutama loncatan api listrik dan bara rokok; dan

3.   tersedia alat pemadam kebakaran.

4)   Bahan Kimia Mudah Meledak

a)   Sifat bahan kimia mudah meledak

Bahan kimia oksidator yaitu bahan kimia yang dapat menghasilkan oksigen dalam penguraian atas reaksinya dengan senyawa lain. Bahan tersebut juga bersifat reaktif dan eksplosif serta sering menimbulkan kebakaran yang sulit dipadamkan karena mampu menghasilkan oksigen sendiri.  Bahan kimia oksidator dapat dibedakan, yaitu :

1.   oksidator anorganik seperti permanganat, perkhlorat, dikromat, hidrogen peroksida, periodat, pesulfat; dan

2.   peroksida organik seperti peroksida, asetil peroksida, asam perasetat.

Dalam melakukan percobaan dengan senyawa eksplosif sebaiknya  dilakukan dalam lemari asam dengan memakai alat pelindung diri serta selalu tersedia pemadam kebakaran. Tetapi ada zat oksidator yang tersembunyi seperti peroksida dalam pelarut organik, senyawa peroksida tersebut dapat terjadi karena auto oksidasi pelarutan seperti etil eter, isopropal eter, dioksidan tetra hidrofuran dan eter alifatik lain. Pelarut-pelarut tersebut jika telah mengandung peroksida akan meledak hebat apabila didestilasi atau diuapkan.

b)   Cara Penanganan yang perlu dilakukan sebagai berikut :

1.   lakukan uji Kl terhadap pelarut sebelum destilasi dengan menambahkan 1 ml Larutan Kl 10% dan larutan kanji kedalam 10 ml pelarut (eter). Warna biru menunjukkan adanya peroksida, pengambilan peroksida dilakukan dengan mengocok pelarutan dengan larutan ferosulfat (60 gr FeSO4 dalam 110 ml air + 6 ml H2SO4) dan uji kembali sampai tak ada peroksida;

2.   lakukan destilasi tanpa pengaduk udara dan gunakan pelindung muka pada saat distilasi pelarut organik;

3.   jangan gunakan pelarut yang telah lama;

4.   hindari penyimpanan sisa-sisa pelarut seperti eter; dan

5.   hindari proses oksidasi dengan menyimpan pelarut dalam botol yang gelap/coklat.

c)   Syarat penyimpanan bahan kimia oksidator:

1.   ruangan dingin dan berventilasi;

2.   Jauhkan dari sumber api dan panas termasuk loncatan api listrik dan bara rokok; dan

3.   jauhkan dari bahan-bahan kimia mudah terbakar atau reduktor.

5)   Bahan Kimia Reaktif

Berdasarkan sifatnya bahan kimia reaktif dapat digolongkan menjadi 2 (dua) golongan :

a)   Bahan kimia reaktif terhadap air

yaitu bahan kimia yang mudah bereaksi terhadap air menghasilkan panas yang besar, gas yang mudah terbakar, sebagai contoh logam Na, K, Ca, logam halida anhidrat, oksida non logam halida dan asam sulfat pekat.  Dalam menangani bahan kimia tersebut harus dijauhkan dari air atau disimpan dalam ruangan yang kering dan bebas dari kebocoran. Kebakaran disebabkan oleh bahan kimia tersebut tidak dapat dipadamkan dengan penyiraman air.

b)   Bahan kimia reaktif terhadap asam

yaitu bahan-bahan kimia yang mudah beraksi dengan asam menghasilkan panas, gas mudah terbakar atau beracun, contoh logam-logam alkali seperti Na, K, dan Ca, selain reaktif terhadap air juga terhadap asam.  Oksidator seperti kalium khlorat/perkholat, kalium permanganat dan asam khromat amat reaktif terhadap asam sulfat dan asam asetat, Bahan-bahan kimia tersebut harus dijauhkan dari asam-asam.

c)   Syarat penyimpanan :

Terhadap Air :

1.   ruang dingin, kering dan berventilasi;

2.   jauhkan dari sumber api atau panas;

3.   bangunan kedap air; dan

4.   sediakan pemadam kebakaran tanpa air (CO2, Halon, Dry Powder)

Terhadap Asam;

1.   ruang dingin dan berventilasi;

2.   jauhkan dari sumber api, panas dan asam;

3.   ruangan penyimpanan perlu didesain agar tidak memungkinkan terbentuknya kantong-kantong hidrogen.

4.   sediakan alat pelindung diri seperti kacamata, sarung tangan, pakaian kerja.

6)   Bahan Kimia Radioaktif.

Bahan kimia radioaktif yaitu bahan kimia yang dapat memancarkan radiasi sinar alpha, beta atau gamma. Zat-zat tersebut banyak dipakai dalam laboratorium dan analisis. Sinar-sinar radiasi tersebut dapat mengganggu atau merusak sel-sel tubuh. Hal ini terjadi karena masuknya zat-zat radioaktif lewat paru-paru (berupa uap atau debu) mulut dan kulit.

Cara menghidarkan diri dari radiasi yaitu dengan :

a)   melindungi diri dengan penahan timbal;

b)   menjauhkan diri dari sumber radiasi; dan

c)   mengurangi waktu keterpaan.

7)   Gas Bertekanan Tinggi

Gas bertekanan tinggi banyak disimpan di laboratorium sebagai reagen, bahan bakar atau gas pembawa. Gas-gas tersebut disimpan dalam silinder dalam bentuk :

a)   gas tekanan seperti udara, hidrogen dan khlor :

b)   gas cair seperti nitrogen dan amonia; dan

c)   gas terlarut dalam pelarut organik dibawah tekanan seperti asetilana.

Bahaya dari gas-gas tersebut selain bahaya karena sifatnya (beracun, korosif, mudah terbakar) juga dapat menyebabkan bahaya mekanik seperti meluncurnya silinder gas akibat tekanan gas yang terlepas atau ledakan, juga bahaya kebocoran.

Cara penanganan gas bertekanan tinggi

Dalam penanganan gas-gas tersebut di laboratorium yang perlu diperhatikan sebagai berikut :

a)   letakkan silinder-silinder gas dalam keadaan tegak berdiri pada tempat yang tidak kena panas, terikat kuat, serta diberi label yang jelas;

b) gunakan pengatur tekanan (regulator) dan kebocoran harus selalu diperiksa;

c)   jangan gunakan pipa atau klep yang terbuat dari tembaga atau perak pada gas asetilana;

d)   gunakan troly dalam pengangkutan gas-gas tersebut; dan

e)   jauhkan dari api dan panas.

III.C     Kecelakaan Kerja

Apabila terjadi kecelakaan kerja yang menimpa petugas laboratorium pada saat melakukan pekerjaan di laboratorium segera lakukan tindakan sebagai berikut :

a) melaporkan kecelakaan yang terjadi kepada Penanggung Jawab Laboratorium dan terhadap korbannya segera lakukan pertolongan pertama;

b)   jika kulit atau mata terkena bahan kimia (terutama yang berbahaya dan mengiritasi), basuh dengan air mengalir selama beberapa menit. Jika masih terasa sakit/terbakar, periksakan ke dokter, jika mata yang terkena periksakan ke dokter mata;

c)   jika kulit terkena fenol, basuh dengan air bersabun kemudian olesi bagian yang terkena dengan gliserol, periksa ke dokter;

d)   lepas cincin, gelang, jam tangan sebelum tangan/jari bengkak;

e) bersihkan tumpahan bahan kimia dengan hati-hati, gunakan pelindung tubuh;

f)    jika jas lab terkena tumpahan bahan kimia lepaskan dan bilas dengan air bersih;

g)   jika terjadi kebakaran, JANGAN PANIK ! segera gunakan alat pemadam kebakaran yang tersedia;

h) jika kebakaran disebabkan oleh sejumlah kecil (50 ml) pelarut organik, biarkan sampai api mati, jauhkan botol-botol yang berisi bahan kimia dan siapkan alat pemadam kebakaran; dan

i)    jika jas/baju laboratorium terbakar lepaskan dan padamkan api dengan bantuan lap.

III. D  Perlengkapan Darurat

A. setiap pekerja laboratorium harus mengetahui lokasi, aplikasi dan cara penggunaan beberapa perlengkapan berikut:

  1. Alat Pemadam Kebakaran
  2. Alarm tanda kebakaran
  3. Semprotan air darurat
  4. Alat pencuci mata
  5. Kotak P3K
  6. Seperangkat penetral bahan kimia berbahaya (pereda nyeri)
  7. Tombol “mati/off” darurat
  8. Lokasi dan daftar no. telp darurat

B. Semprorat air darurat dan pencuci mata

  1. Semprotan air darurat dan alat pencuci mata harus ada di tempat kerja bila sewaktu-waktu dibutuhkan dalam kondisi darurat.
  2. inspeksi:
    1. Akses alat pencuci mata harus rutin diperiksa setiap pergantian pekerja
    2. Pengecekan aliran air alat pencuci mata harus di cek minimal satu kali seminggu. Pengecekan ini juga untuk melihat adanya endapan atau kotoran pada alat tersebut.
    3. Semprotan air darurat dan alat pencuci mata harus dicek setiap tahun oleh biro perlengkapan dan peralatan.

C. Alat Pemadam Kebakaan

  1. Penanggungjawab alat pemadam kebakaran adalah biro perlengkapan dan peralatan untuk melihat, memilih dan menempatkan beberapa alat pemadam kebakaran di setiap sudut laboratorium.
  2. Alat pemadam kebakaran harus ditempatkan kurang dari 30 kaki dari sumber api yang berbahaya  dan mudah dijangkau.
  3. Akses untuk mememukan alat pemadam kebakaran harus mudah dan diletakkan ditempat yang mudah dikenali.
  4. Tipe dan ukuran alat pemadam kebakaran harus disesuaikan dengan tingkat bahaya. Dan jika terdapat fasilitas bahan yang mudah meledak di laboratorium, pihak managemen laboratorium harus menyediakan alat pemadam kebakaran tipe D.
  5. Setiap perlengkapan alat laboratorium menjadi tanggungjawab  biro perlengkapan dan peralatan jika:
    1. Hendak memodifikasi atau memindahkan alat pemadam kebakaran
    2. Perbedaan jenis alat pemadam kebakaran harus disesuaikan dengan jenis material berbahaya yang ada.
    3. Pemadam kebakaran harus telah diisi ulang, atau
    4. alat pemadam kebakaran harus diperbaiki dan dirawat.
    5. beberapa alata berikut wajib di cek setiap bulan oleh personil lab, yaitu:
      1. Penempatan alat pemadam kebakaran
      2. memastikan alat yang macet telah diperbaiki
      3. Pin pemadam harus diletakkan dan diikat dengan kawat yang kuat
      4. Indikator alat pemadam kebakaran menunjukkan kondisi ‘Full’
      5. alat pemaam kebakaran tidak menunjukkan kondisi kerusakan.

D. Alarm tanda kebakaran

  1. Model dan prosedur perlindungan kebakaran menjadi tanggung jawab University Fire Marshal
  2. Biro perlengkapan dan peralatan harus mengecek setiap peralatan berikut:

a. Alarm tanda kebakaran harus dalam kondisi tidak macet

b. Alarm tanda kebakaran akan diaktifkan untuk kegiatan rutin.

E. Kotak P3K

  1. Kotak P3K harus tersedia dan berisi perlengkapan pengobatan untuk lukan/kecelakaan kecil.
  2. Kotak P3K harus rutin dicek setiap bulan untuk mengisi bahan yang telah habis.

F.   Prosedur Kedaruratan

Pencegahan sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya kedaruratan dan tidak ada kecelakaan yang telah direncanakan.  Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk pencegahan terjadinya kedaruratan diantaranya: mengadakan training bagi para pekerja, Program pengecekan semua fasilitas laboratorium, dan Perumusan metode pemrosesan material berbahaya. Resiko laboratorium diantaranya yaitu kecelakaan kerja, tumpahan bahan kimia, paparan bahan radioaktif atau infeksi aerosol, kebakaran, ledakan, dan situasi kedaruratan lainnya.

IV. PENGELOLAAN LIMBAH DI LABORATORIUM 

Institusi laboratorium harus menetapkan dan memelihara kebijakan manajemen limbah yang memadai untuk agen biologik dan toksin. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa limbah dikelola dengan cara yang aman, efisien dan efektif dalam pembiayaan sesuai dengan jenis limbah.

Untuk dapat mengelola limbah dengan baik, diidentifikasikan terlebih dahulu :

  • Peran dan tanggung jawab petugas.
  • Jenis dan sifat limbah.
  • Proses dekontaminasi yang sesuai;
  • Kebijakan manajemen limbah lokal dan lingkungan.

Dalam kebijakan pengelolaan limbah perlu dipertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut:

  • Penetapan program pengelolaan limbah.
  • Audit alur limbah yang efektif
  • Penyediaan fasilitas dan prosedur penyimpanan limbah yang memadai sebelum dimusnahkan.
  • Prosedur pemisahan dan dekontaminasi limbah campuran yang efektif (misalnya hewan yang terinfeksi yang telah menerima bahan radioaktif).
  • Kesesuaian bahan kemasan yang digunakan untuk menampung limbah agar kemasan tidak rusak selama penyimpanan dan transportasi.
  • Khusus limbah kimia, bahan berbahaya dan beracun (B3) tidak boleh dicampur apabila dapat menimbulkan reaksi yang membahayakan, masing-masing ditempatkan dalam kemasan yang terpisah serta diberi label.
  • Proses dekontaminasi sesuai dengan sifat dan jenis limbah.
  • Prosedur administrasi kepada otoritas pengolahan limbah B3 dan teknis pengirimannya.

Prosedur Pembuangan Limbah Laboratorium

  1. Pecahan Kaca/Gelas

Peralatan yang mudah pecah (seperti Beaker Glass, Pipet, dll) harus dibersihkan dan dibuang pada tempat sampah khusus kemudian ditutup rapat. Sedangkan untuk pecahan kaca yang terkontaminasi bahan kimia dikemas tersendiri sebagai sampah yang berbahaya..

  1. Termometer Kaca (termometer merkuri)

Pertama yang harus dilakukan adalah memisahkan kaca dan tumpahan merkuri dan jangan pernah membersihkan merkuri dengan menggunakan tangan. Bungkus pecahan kaca termometer dan bersihkan tumpahan merkuri dengan air. Selanjutnya, buang sampah kimia tersebut sesuai standar yang telah ditetapkan.

  1. Limbah Kimia
    1. Setiap personil yang bekerja di laboratorium harus bertanggung jawab pada kebersihan sampah dan membuangnya ditempat yang telah ditentukan.
    2. Prosedur pembuangan sampah harus disinergikan dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh pihak universitas atau pemerintah. Semua jenis sampah harus diberi label pada tiap kantong plastiknya dan diberi tanggal pengumpulannya. Prosedur pembuangan sampah harus mengikuti aturan yang ditetapkan .
    3. Semua pekerja laboratorium harus bertanggungjawab terhadap proses pengemasan dan pembuangan sampah..
    4. Perkakas dari bahan logam tidak dapat digunakan sebagai tempat sampah karena sifat volatil (tidak stabil) kimia yang dimilikinya.
    5. Harus ada penanggungjawab pembuangan limbah dari laboratorium, yang bertanggungjawab hingga limbah keluar dari generator.
    6. Generator limbah kimia bertanggungjawab mulai dari penyiapan dan pengemasan sampah kimia menurut aturan dan prosedur  yang dapat telah ditetapkan.
    7. Pembungkus sampah harus berdekatan dengan genetaror dan dipastikan tidak ada yang bocor. Kemudian di tutup ulang dengan pembungkus kedua.
    8. Semua biaya pemusnahan sampah menjadi tanggungjawab biro perlengkapan.
    9. Setiap orang yang akan membawa material sampah dari genetator ke pembuangan akhir harus mendapatkan training tentang cara pengamanan pembuangan material sampah berbahaya.

10. Sampah khusus seperti material radioaktif, infeksius, logam, asbes harus memenuhi ketentuan prosedur pembuangan sampah khusus.

 IV. PELAPORAN

Pengelola laboratorium biosafety mikrobiologi yang menangani atau bekerja yang terkait dengan agen berbahaya dari patogen zoonosis yang termasuk dalam risk group 3 harus membuat laporan secara berkala setiap 3 (tiga) bulan sekali kepada Menteri Pertanian c.q. Unit Eselon I masing-masing yang bertanggung jawab patogen zoonosis.  Pembuatan laporan meliputi  kegiatan pengelolaan dan operasionalisasi laboratorium biosafety mikrobiologi yang terkait dengan agen berbahaya dari patogen zoonosis dan setiap kejadian yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan agen berbahaya seperti terpaparnya petugas laboratorium dengan agen berbahaya, penyalahgunaan agen berbahaya, kehilangan dan atau kecurian agen berbahaya atau kebocoran agen berbahaya ke lingkungan yang tidak dapat dikendalikan..

IV.  PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pembinaan, pengawasan dan bimbingan terhadap operasional laboratorium biosafety mikrobiologi lingkup Badan Karantina Pertanian terkait dengan agen berbahaya dari patogen zoonosis menjadi tanggung jawab Menteri Pertanian  c.q. Unit Eselon I masing-masing yang bertanggung jawab patogen zoonosis, dan atau yang ditunjuk Menteri Pertanian.

Pembinaan dan Pengawasan serta bantuan Teknis Laboratorium karantina hewan di Unit Pelaksana Teknis dilakukan oleh Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani dan dibantu oleh Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian.

V.  PENUTUP

Pedoman ini ditetapkan sebagai acuan dalam operasionalisasi, pembinaan, pengawasan dan bimbingan pengelolaan terhadap laboratorium mikrobiologi karantina hewan lingkup Badan Karantina Pertanian, khususnya bagi petugas laboratorium dalam melakukan pemeriksaan dan pengujian sampel media pembawa HPHK dan agen berbahaya.

Pedoman ini bersifat dinamis dan akan disesuaikan kembali apabila terjadi perubahan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tindakan Karantina Hewan Terhadap Sapi

Tindakan Karantina Hewan Terhadap Sapi

Profil KH

Pusat Karantina Hewan senantiasa meningkatkan pelayanan dalam kerangka trade fasilitator dengan tetap mengedepankan maximum security untuk fungsi pengawasannya terhadap pemasukan dan penyebaran serta pengeluaran Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) melalui media pembawa.

Pengembanan sistem pelayanan dimaksud adalah melalui penguatan technical guidance yang didasarkan pada analisa dan situasi penyakit karantina, peningkatan kemampuan menganalisa risiko penyakit-penyakit karantina (HPHK), pengembangan dan pengaplikasian manajemen risiko pada pelaksanaan tindakan karantina terhadap importasi/lalu lintas hewan dan produk-produknya, pengembangan dan peningkatan sistem pelayanan tindakan karantina hewan secara in line inspection system.

Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani didukung oleh tiga bidang, yaitu: Bidang Karantina Produk Hewan, Bidang Keamanan Hayati Hewani, dan Bidang Karantina Hewan Hidup.

Fungsi Pusat pada:

Bidang Karantina Produk Hewan

  • Penyiapan penyusunan kebijakan teknis,
  • Pemberian bimbingan teknis
  • Evaluasi pelaksanaan perkarantinaan,
  • Analisis risiko hama penyakit hewan karantina produk hewan impor, ekspor dan antar area.

Bidang Keamanan Hayati Hewani

  • Penyiapan penyusunan kebijakan teknis,
  • Pemberian bimbingan teknis,
  • Pemantauan,
  • Evaluasi di bidang pengawasan invasive alien species, agensia hayati, produk rekayasa genitika, benda lain dan media pembawa lain impor, ekspor dan antar area.

Bidang Karantina Hewan Hidup

  • Penyiapan penyusunan kebijakan teknis,
  • Pemberian bimbingan teknis,
  • Pemantauan,
  • Evaluasi di bidang perkarantinaan dan laboratorium,
  • Analisis risiko hama penyakit hewan karantina hewan impor, ekspor dan antar area.

Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani

021-781
Office hours : 730am - 16pm

Kalender 2013

October 2014
M T W T F S S
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.